Costum Search Enginge

Loading

Thursday, January 3, 2013

Pemantauan Tumbuh Kembang


PEMBAHASAN

2.1.      PERAWATAN KESEHATAN PADA BALITA
Balita merupakan anak usia 1-5 tahun. Pelayanan kesehatan pada anak balita,meliputi :
1.      Pemantauan pertumbuhan balita dengan KMS
            KMS (Kartu Menuju Sehat) untuk balita adalah alat yang sederhana dan murah, yang dapat digunakan untuk memantau kesehatan dan pertumbuhan anak.Oleh karenanya KMS harus disimpan oleh ibu balita di rumah, dan harus selalu dibawa setiap kali mengunjungi posyandu atau fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk bidan dan dokter.
            KMS-Balita menjadi alat yang sangat bermanfaat bagi ibu dan keluarga untuk memantau tumbuh kembang anak, agar tidak terjadi kesalahan atau ketidak seimbangan pemberian makan pada anak.KMS juga dapat dipakai sebagai bahan penunjang bagi petugas kesehatan untuk menentukan jenis tindakan yang tepat sesuai dengan kondisi kesehatan dan gizi anak untuk mempertahankan, meningkatkan atau memulihkan kesehatan- nya.
            KMS berisi catatan penting tentang pertumbuhan, perkembangan anak, imunisasi, penanggulangan diare, pemberian kapsul vitamin A, kondisi kesehatan anak, pemberian ASI eksklusif dan Makanan Pendamping ASI, pemberian makanan anak dan rujukan ke Puskesmas/ Rumah Sakit. KMS juga berisi pesan-pesan penyuluhan kesehatan dan gizi bagi orang tua balita tenta ng kesehatan anaknya (Depkes RI, 2000).
            Manfaat KMS adalah :
¨      Sebagai media untuk mencatat dan memantau riwayat kesehatan balita secara lengkap, meliputi : pertumbuhan, perkembangan, pelaksanaan imunisasi, penanggulangan diare, pemberian kapsul vitamin A, kondisi kesehatan pemberian ASI eksklusif, dan Makanan Pendamping ASI.
¨      Sebagai media edukasi bagi orang tua balita tentang kesehatan anak
¨      Sebagai sarana komunikasi yang dapat digunakan oleh petugas untuk menentukan penyuluhan dan tindakan pelayanan kesehatan dan gizi.

2.      Pemberian Kapsul Vitamin A
            Vitamin A adalah salah satu zat gizi dari golongan vitamin yang sangat diperlukan oleh tubuh yang berguna untuk kesehatan mata ( agar dapat melihat dengan baik ) dan untuk kesehatan tubuh yaitu meningkatkan daya tahan tubuh, jaringan epitel, untuk melawan penyakit misalnya campak, diare dan infeksi lain.Upaya perbaikan gizi masyarakat dilakukan pada beberapa sasaran yang diperkirakan banyak mengalami kekurangan terhadap Vitamin A, yang dilakukan melalui pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi pada bayi dan balita yang diberikan sebanyak 2 kali dalam satu tahun. (Depkes RI, 2007)
            Vitamin A terdiri dari 2 jenis :
·         Kapsul vitamin A biru (100.000 IU) diberikan pada bayi yang berusia 6-11 bulan satu kali dalam satu tahun
·         Kapsul vitamin A merah (200.000 IU) diberikan kepada balita
            Kekurangan vitamin A disebut juga dengan xeroftalmia (mata kering).Hal ini dapat terjadi karena serapan vitamin A pada mata mengalami pengurangan sehingga terjadi kekeringan pada selaput lendir atau konjungtiva dan selaput bening (kornea mata).
            Pemberian vitamin A termasuk dalam program Bina Gizi yang dilaksanakan oleh Departemen Kesehatan setiap 6 bulan yaitu bulan Februari dan Agustus, anak-anak balita diberikan vitamin A secara gratis dengan target pemberian 80 % dari seluruh balita. Dengan demikian diharapkan balita akan terlindungi dari kekurangan vitamin A terutama bagi balita dari keluarga menengah kebawah.

3.      Pelayanan Posyandu
            Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi.

Adapun jenis pelayanan yang diselenggarakan Posyandu untuk balita mencakup :
1)      Penimbangan berat badan
2)      Penentuan status pertumbuhan
3)      Penyuluhan
4)      Jika ada tenaga kesehatan Puskesmas dilakukan pemeriksaan kesehatan, imunisasi dan deteksi dini tumbuh kembang, apabila ditemukan kelainan, segera ditunjuk ke Puskesmas.

4.      Manajemen Terpadu Balita Sakit
            Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) atau Integrated Management of Childhood Illness (IMCI) adalah suatu pendekatan yang terintegrasi/terpadu dalam tatalaksana balita sakit dengan fokus kepada kesehatan anak usia 0-59 bulan (balita) secara menyeluruh. MTBS bukan merupakan suatu program kesehatan tetapi suatu pendekatan/cara menatalaksana balita sakit.Kegiatan MTBS merupakan upaya pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di unit rawat jalan kesehatan dasar (Puskesmas dan jaringannya termasuk Pustu, Polindes, Poskesdes, dll).
            Bila dilaksanakan dengan baik, pendekatan MTBS tergolong lengkap untuk mengantisipasi penyakit-penyakit yang sering menyebabkan kematian bayi dan balita di Indonesia.Dikatakan lengkap karena meliputi upaya preventif (pencegahan penyakit), perbaikan gizi, upaya promotif (berupa konseling) dan upaya kuratif (pengobatan) terhadap penyakit-penyakit dan masalah yang sering terjadi pada balita.Badan Kesehatan Dunia WHO telah mengakui bahwa pendekatan MTBS sangat cocok diterapkan negara-negara berkembang dalam upaya menurunkan angka kematian, kesakitan dan kecacatan pada bayi dan balita.
Kegiatan MTBS memliliki 3 komponen khas yang menguntungkan, yaitu:
a.       Meningkatkan ketrampilan petugas kesehatan dalam tatalaksana kasus balita sakit (selain dokter, petugas kesehatan non-dokter dapat pula memeriksa dan menangani pasien asalkan sudah dilatih).
b.      Memperbaiki sistem kesehatan (perwujudan terintegrasinya banyak program kesehatan dalam 1 kali pemeriksaan MTBS).
c.       Memperbaiki praktek keluarga dan masyarakat dalam perawatan di rumah dan upaya pencarian pertolongan kasus balita sakit (meningkatkan pemberdayaan masyarakat dalam pelayanan kesehatan).

5.      Pelayanan Immunisasi
            Imunisasi adalah upaya pencegahan penyakit infeksi dengan menyuntikkan vaksin kepada anak sebelum anak terinfeksi. Anak yang diberi imunisasi akan terlindung dari infeksi penyakit-penyakit: sebagai berikut: TBC, Difteri, Tetanus, Pertusis (batuk rejan), Polio, Campak dan Hepatitis B. Dengan imunisasi, anak akan terhindar dari penyakit-penyakit, terhindar dari cacat, misalnya lumpuh karena Polio, bahkan dapat terhindar dari kematian.
            Imunisasi bermanfaat untuk memberikan kekebalan pada bayi dan anak sehingga tidak mudah tertular penyakit:TBC, tetanus, difteri, pertusis (batuk rejan), polio, campak dan hepatitis.
Beberapa imunisasi yang diberikan pada bayi dan balita :
1)      BCG
a.       Tujuan
Untuk memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit TBC
b.      Jadwal pemberian
Bayi berumur 0-11 bulan, tapi dengan dosis 0,05 cc. Vaksinasi diulang pada umur  5 tahun
c.       Diberikan secara intracutan pada lengan kanan keatas
d.      Efek samping
Penyuntikan secara intradermal yang benar akan menimbulkan ulkus lokal yang supervialal 3 minggu setelah penyuntikan, ulkus yong biasu tertutup krusta akan sembuh dalam 2-3 bulan dan meninggalkan parut bulat dengan diameter 4-8 mm. Apabila dosis terlalu tinggi maka ulkus yang timbul semakain besar, namun apabila penyutikan terlalu dalam, parut yang terjadi tertarik ke dalam.

2)      DPT
a.       Tujuan
Untuk memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit difteri, pertusis dan tetanus
b.      Jadwal pemberian
Pada bayi 2-11 bulan, sebanyak 3 kali suntikan dengan selang waktu 4 minggu secara IM di paha bagian atas dengan dosis 0,5 cc. Imunisasi ulang lainnya dlberikan umur 1,5-2 tahun, kemudian pada usia 6-8 tahun dan 10 tahun
c.       Efek samping
Kemerahan, bengkak, dan nyeri pada lokasi injeksi, terjadi pada kira-kira separuh penderita. Proporsi yang sama juga akan menderita demam ringan dan 1% dapat hiperperiksia. Anak sering gelisah, dan menangis terus menerus selama beberapa jam pasca penyuntikan
3)      Hepatitis B
a.       Tujuan
Untuk mendapatkan kekebalan terhadap virus hepatitis
b.      Jadwal pemberian
Pada usia 0-1 bulan, dianjurkan pad usia 0-7 hari. Kemudian pada usia 2-­3 bulan.
c.       Diberikan secara IM di paha bayi dengan dosis 0,5 cc
d.      Efek samping yang terjadi biasanya ringan, berupa nyeri, panas, mual nyeri sendi dan otot
4)      P olio
a.       Tujuan
Untuk mendapatkan kekebalan terhadap penyakit poliomyelitis
b.      Jadwal pemberian
Pada bayi umur 2-3 bulan, diberikan sebanyak 3 kali pemberian dengan dosis 2 tetes dengan interval 4 minggu. Pemberian ulang pada umur 1,5 -­2 tahun dan menjelang umur 5 tahun
c.       Efek samping
Setelah vaksinasi sebagian kecil resipen dapat mengalami gejala-gejala pusing, diare ringan, dan otot

5)      Campak
a.       Tujuan
Untuk mendapatkan, kekebalan terhadap penyakit
b.      Jadwal pemberian
Umur 9-11 bulan dengan 1 kali pemberian, dengan dosis 0,5 cc secara subkutan di lengan kiri
c.       Efek samping
Di laporkan setelah vaksinasi MMR (measies mumps, dan ruballa) dapat terjadi malaise demam atau ruam sering terjadi 1 minggu setelah imunisasi dapat terjadi kejang demam ensefalitas pasca imunisasi dan pembengkakan kelenjar parutis pada minggu ke – 3.

            Imunisasi dapat diperoleh di Posyandu, Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Puskesmas Keliling, Praktek dokter atau bidan, dan di Rumah sakit.
Pelayanan imunisasi pada balita dapat disesuaikan dengan jadwal pemberiannya yaitu :
*      Konseling pada keluarga balita
*      Konseling yang dapat diberikan adalah :
-          Pemberian makanan bergizi pada bayi dan balita
-          Pemberian makanan bayi
-          Mengatur makanan anak usia 1-5 tahun.
-          Pemeriksaan rutin/berkala terhadap bayi dan balita
-          peningkatan kesehatan pola tidur, bermain, peningkatan pendidikan seksual dimulai sejak balita (sejak anak mengenal idenitasnya sebagai laki-laki atau perempuan).

Perawatan Kesehatan Anak Balita
Salah satu upaya untuk mengurangi angka kesakitan dan kematian anak balita adalah dengan melakukan pemeliharaan kesehatannya.Bidan yang bekerja di komunitas melakukan kegiatan pelayanan kesehatan anak balita di rumah (keluarga), Puskesmas/Puskesmas pembantu, Posyandu, Polindes dan Taman Kanak-kanak.
1. Pelayanan kesehatan pada anak balita
a.       Pemeriksaan kesehatan anak balita secara berkala
b.      Penyuluhan pada orang tua, menyangkut perbaikan gizi, kesehatan lingkungan, pengawasan tumbuh kembang anak
c.       Imunisasi dan upaya pencegahan penyakit lainnya
d.      Identifikasi tanda kelainan dan penyakit yang mungkin timbul pada bayi dan cara menanggulanginya

2. Kunjungan anak balita
Bidan berkewajiban mengunjungi bayi yang ditolongnya atupun yang ditolong oleh dukun di bawah pengawasan bidan di rumah.
ü  Kunjungan ini dilakukan pada minggu pertama setelah persalinan. Untuk selanjutnya bayi bisa dibawa ke tempat bidan bekerja
ü  Anak berumur sampai 5 bulan diperiksa setiap bulan
ü  Kemudian pemeriksaan dilakukan setiap 2 bulan sampai anak berumur 12 bulan
ü  Setelah itu pemeriksaan dilakukan setiap 6 bulan sampai anak bet umur 24 bulan
ü  Selanjutnya pemeriksaan dilakukan satu kali se-tahun.
Kegiatan yang dilakukan pada kunjungan balita antara lain:
ü  Pemeriksaan fisik anak ditakukan termasuk penimbangan berat badan
ü  Penyuluhan atau nasehat pada ibu tentang pemeliharaan kesehatan anak dan perbaikan gizi serta hubungan psiko sosial antar anak, ibu dan keluarga. Ibu diminta memperhatikan tumbuh kembang anak, pola makan dan tidur serta perkembangan prilaku dan sosial anak.
ü  Penjelasan tentang Keluarga Berencana
ü  Dokumentasi pelayanan

3. Pemeriksaan kesehatan anak balita
Kegiatan observasi dilakukan untuk mengetahui keadaan umum anak:
a.       Bagaimana postur tubuhnya, kurus atau gemuk?
b.      Apakah da!am keadaan tenang? Mengantuk atau gelisah?
c.       Bagaimana kondisi psikologis anak, marah, cengeng atau ramah?
d.      Bagaimana kondisi kulit anak?
e.       Apakah sesak napas atau tidak?
f.       Bagaimanan kondisi matanya, cekung, ada kotoran, warna konjungtiva?
g.      Bagaimana kesan pertumbuhan anak? Apakah sesuai antara berat badan, tinggi badan, dan perkembangan mentalnya?
Beberapa hal yang perlu dilakukan pada pemeriksaan fisik adalah sebagai berikut:
Ø  Anak diperiksa dalam keadaan tanpa pakalan kecuali popok atau celana dalam
Ø  Bila anak gelisah, pemeriksaan dilakukan di atas pangkuan ibu
Ø Ibu diminta membantu proses pemeriksaan agar berjalan lancar
Ø  Berikan pengertian pada anak yang sudah besar dan mengerti tentang pemeriksaan
Ø  Denyut nadi, suhu napas jangan lupa diperiksa

Pemantauan Tumbuh Kembang Bayi dan Balita
Pertumbuhan berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bisa diukur dengan ukuran berat, panjang, umur tulang dan keseimbangan tulang.
Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil dari proses pematangan.
David Morloy merupakan pelopor yang menggunakan kartu pertumbuhan anak yang disebut "road to health card" pada tahun 1975 di des Imesi, Nigeria. Kartu tersebut disebut dengan KMS (Kartu Menuju Sehat) yang merupakan alat penting untuk memantau tumbuh kembang anak.
Menurut Mortey, pada KMS terdapat 4 patokan sederhana perkembangan psikomotorik, sehingga ibu dapat mengetahui tingkat perkembangan anaknya.
§  Kemampuan duduk (5-9 ½ bulan)
§  Berjalan ± 10 langkah tanpa bantuan (9-18 ¼ bulan)
§   Mengucapkan sepatah kata (10-12 bulan)
§  Kemampuan berbahasa beberapa kata (18 ½ bulan-3 tahun)

Tujuan pemantauanfisik anakadalah:
a.       Agar pertumbuhan mudah diamati
b.      Menciptakan kebutuhan akan rasa ingin tahu terhadap kebutuhan anak
c.       Meningkatkan pertumbuhan yang layak untuk pertumbuhan anak
d.      Melukiskan setiap kejadian yang kurang menguntungkan anak
e.       Menemukan seawal mungkin gejala-gejala gangguan pertumbuhan
f.       Merupakan sarana untuk memberikan penyuluhan kepada ibu:
ü  Gizi/makanan bayi dan anak
ü  Tumbuh kembang anak
ü  Kesehatan anak
ü  Imunisasi
ü  Keluarga Berencana
ü  Pencegahan : deflsiensi vitamin A, dehidrasi akibat diare, sanitasi lingkungan, dll
Tumbuh kembang anak diperiksa diperiksa berdasarkan umur. Yang diperhatikan adalah aktifitas motor anak, bahasa dan adaptasi lingkungannya. Tumbuh kembang anak normal sebagi berikut:
v  Umur satu bulan
§  Refleks moro dapat menghisap, menggenggam positif
§  Bila ditelungkupkan bayi berusaha mengangkat kepala dan kaki bergerak seperti mau merangkak
§  Dalam posisi duduk, punggung bungkuk, kepala tegak sesaat Bayi kebanyakan tidur
§  Bayi diam bila ada suara terkejut bila mendengar bunyi suara vokal (bila menangis)
§  Mata bayi mengikuti objek yang tergantung dibenang yang digoyangkan ke kiri dan ke kanan
v  Umur dua bulan
§  Menendang-nendang dan gerak tangan yang energik
§  Kepala bergoyang bila dalam posisi duduk
§  Bila telungkup, kepala tegak, membentuk sudut 450
§  Tangan dihisap sendiri dan selalu terbuka
§  Mengeluarkan satu suara vokal seperti a-e-u
§  Kepala dan mata mengarah ke suara
§  Mengikuti objek yang bergoyang
§  Gerak ekspresi berjaga-jaga
§  Senyum bila diajak bicara lembut

v  Umur tiga bulan
§  Telungkup, kepala tegak 900
§  Refleks moro dan menggenggam mulai tidak nampak
§  Berguling (3 – 4 bulan)
§  Ketawa kecil, memekik
§  Respon terhadap musik
§  Bersuara a-a, la-la, oo-oo
§  Berusaha menggapai objek tapi tidak tepat
§  Memegang benda dengan erat bila diletakkan di atas tangannya dan menarik baju
§  Mengikuti objek ke samping (1800)
§  Memperhatikan orang dan mainan
§  Senyum spontan

v  Umur empat bulan
§  Dapat duduk dengan bantuan dan berpaling ke arah bunyian
§  Mengangkat kepala sewaktu tengkurap, untuk berupaya duduk
§  Kaki menendang-nendang bila didirikan
§  Tertawa keras (4-5 bulan)
§  Mengucapkan : seperti m-p-b
§  Mengulang suara yang didengar
§  Memegang giring-giring
§  Memindahkan objek dari satu tangan ke tangan lain
§  Menarik baju ke muka sendiri
§  Senyum spontan ke orang yang dilihat

v  Umur lima bulan
§  Berguling dari satu sisi ke sisi lain
§  Beringsut dari belakang ke depan
§  Tegak bila diangkat dan berpegang bila duduk
§  Berdiri bila di bantu
§  Mengenal suara yang sering di dengar
§  Berhenti menangis bila mendengar nyanyian
§  Memegang benda yang disenangi dan menggapai mainan dengan dua tangan
§  Senyum pada bayangan kaca
§  Memalingkan kepala ke arah suara
§  Senang bermain dengan orang lain

v  Umur enam bulan
  • Tengkurap : Mengangkat kepala spontan
  • Duduk dengan bantuan
  • Beringsut mundur (6-7 bulan)
  • Memegang kaki dan bermain dengan jari kaki
  • Memegang benda kecil (kubus) dengan telapak
  • Bersuara bila melihat kaca
  • Mengucapkan empat jenis bunyi
  • Melokalisasi sumber suara
  • Memasukkan benda kecil ke mulut
  • Curiga terhadap orang atau suara asing
  • Memberi perhatian pada orang atau objek
  • Mempertahankan perhatian bila diambil
  • Mengangkat tangan bila mau diambil

v  Umur delapan bulan
§  Duduk sendiri (6-8 bulan)
§  Mulai melangkah dan mencoba merangkak
§  Bergerak maju mengambil objek
§  Bersuara seperti a-la, a-ba, oo-oo, a-ma, ma-ma, pa-pa (8-10 bulan)
§  Mendengar orang bercakap-cakap dan berterlak untuk menarik perhatian (8-10 bulan)
§  Bergerak mengambil mainan di luar jangkauan
§  Membunyikan lonceng
§  Minum dan cangkir
§  Bermain ci-luk-ba
§  Memperhatikan bayangan di kaca
§  Bermain kertas
§  Makan biskuit sendiri

v  Umur sepuluh bulan
§  Duduk mandiri
§  Berdiri dengan pegangan, merangkak, dan berjalan dengan pegangan
§  Dapat berputar bila diletakkan di atas lantai
§  Menggelengkan kepala manyatakan tidak
§  Melambaikan tangan untuk ucapan selamat (tinggal atau jalan)
§  Memberi respon terhadap panggilan nama sendiri
§  Menyuarakan beberapa ucapan (10-12 bulan)
§  Bermain tepuk tangan

v  Umur dua belas bulan
§  Berdiri sendiri dan berjalan, dengan bantuan atau tangan yang dipegang orang lain
§  Berputar dalam posisi duduk
§  Menggenggam 2 benda kecil di dalam satu tangan
§  Mengucapkan kata dengan arti yang spesiik seperti "mama" untuk Ibu
§  Berbicara kepada mainan
§  Mengoceh bila sendiri
§  Mematuhi perintah yang sederhana seperti "Beri saya cangkir itu"
§  Ikut membantu sendiri bila dipasangkan pakaiannya
§  Bermain dengan cangkir atau sendok
§  Menunjukkan sesuatu dengan jari telunjuk
§  Mencoba mengambil benda kecil dan dalam kotak
§  Memasukkan benda kecil ke mulut
§  Memegang cangkir untuk minum
§  Memperhatikan tulisan

v  Umur lima belas bulan
§  Berdiri sendiri dan memanjat
§  Berlutut di lantai atau di kursi
§  Berjalan dengan keseimbangan badan yang baik
§  Berbicara dengan 4-5 kata
§  Menunjukkan keinginan sesuatu dengan bicara
§  Tahu namanya sendiri
§  Mengangkat cangkir untuk minuman
§  Minum dengan sendok
§  Menunjukkan atau membori mainan kepada seseorang
§  Membanu membuka pakaiannya sendiri
§  Memasukkan benda kecil ke dalam botol tanpa demonstrasi
§  Senang mendorong mainan beroda

v  Umur 18 bulan
§  Berlari dan naik tangga dengan pegangan satu tangan
§  Berjalan mundur dan mengangkat kursi Melempar bola
§  Mengucapkan angka 1-10 (18-21 bulan)
§  Menunjukkan sekurang-kurangnya satu bagian tubuh yang ditanyakan
§  Dapat menyebutkan "halo"
§  Menunjukkan benda yang ditawarkan seperti cangkir, sendok, mobil, kursi
§  Membalikkan halaman buku
§  Membawa atau memeluk boneka
§  Mencoret-coret

v  Umur 21 bulan
§  Berlari dan naik turun tangga dengan pegangan
§  Naik tangga sendiri
§  Menendang bola
§  Bercakap dengan mengucapkan 15-20 kata
§  Mampu mengkombinasikan dua atau tiga kata
§   Minta makan atau minum
§  Memberi bola pada orang lain (ibunya), meletakkan bola ke tempat yang lain
§  Menunjukkan 3-4 bagian tubuh yang ditanyakan
§  Membantu kegiatan rumah yang sederhana (21-24 bulan)
§  Memindahkan pakaian dengan baik
§  Menarik orang lain untuk menunjukkan sesuatu

v  Umur 24 bulan
§  Berlari tanpa jatuh
§  Mengucapkan sekurang-kurang satu kalimat atau ungkapan 4-5 ungkapan
§  Dapat mengucapkan kembali 5-6 suara konsunan (yang terpilih : m-p-b-h-­w)
§  Menujukkan 4 bagian tubuh yang di tanyakan
§  Menyebutkan benda diatas meja bila di tanyakan
§  Menyebutkan nama sendiri
§  Melempar bola ke dalam kotak
§  Mengambarkan garis vertikal setelah di tunjukan

v  Umur 2,5 tahun
§  Melompat dan mencoba berdiri dengan satu kaki
§  Memegang pensil dengan jari
§  Mencoba jalan berjingkrak
§  Menyebut nama benda sehari-hari
§  Menjawab pertanyaan sederhana sepert "apa ini"?
§  Mendorong mainan yang terarah
§  Menolong membuang sesuatu
§  Memakai pakaian
§  Membasuh dan mengeringkan tangan
§  Makan dengan sendok
§  Mengambar garis horizontal yang dipertunjukan
§  Berupaya mengambar lingkaran yang ditunjukan

v  Umur 3 tahun
§  Berdiri satu kaki sekurang-kurangnya satu detik
§  Melompat dari anak tangga paling bawah
§  Dapat melepaskan dua kancing baju
§  Menaiki sepada roda tiga
§  Mengucapkan kalimat dengan enam kata seperti "saya punya ibu, bapak dan kakak"
§  Menyebutkan tiga atau lebih nama objek di dalarn gambar atau foto
§  Membedakan laki-laki dan perempuan
§  Menyebutkan nama lengkap
§  Menjawab pertanyaan dengan tepat
§  Mengenal sekurang-kurangnya satu warna
§  Dapat menjawab pertanyaan sekurang-kurangnya dengan tiga kata dalam satu kalimat
§  Menguasai 750-1000 kata ( 3-3,5 tahun)
§  Memahami giliran
§  Menyalin gambar lingkaran
§  Berpakaian dengan pengawasan
§  Berbisik
§  Makan sendiri dengan baik

v  Umur 4 tahun
§  Berdiri satu kaki lebih kurang 5 detik
§  Melompal sekurang-kurangnya 2 kali dengan satu kaki
§  Dapat mengancingkan baju dan mengikat sepatu
§  Mengulang 10 kata tanpa salah
§  Menghitung tiga objek, dan menunjukannya dengan benar
§  Memahami misalnya : "apa yang diperbuat bila lapar mengantuk dan kedinginan ?"
§  Kalimat spontan, pengucapannya 4 sampai 5 kata Suka mengajukan pertanyaan
§  Memahami kata seperti di atas, di bawah, di belakang, dan sebagainya (letakan benda ini diatas benda)
§  Dapat menunjukan 3-4 warna
§  Berbicara dengan komunikasi yang efektif
§  Mencontoh lukisan/gambar Bermain bersama dengan anak-anak lain
§  Memakai dan membuka pakaian sendiri
§  Mengosok gigi dan membasuh muka
§  Ke toilet sendiri

*        Umur 5 tahun
§  Berdiri 1 kaki 8-10 detik
§  Melompat, menggunakan kaki bergantian
§  Menangkap dengan tangan, bola yang dilempar dengan 2-3 kali percobaan
§  Mengetahui umur sendiri Mengenal 4 macam warna
§  Menyebutkan fungsi benda sehari-hari seperti sendok, pensil dan sebagainya
§  Menyebutkan jenis benda
§  Menanyakan arti sesuatu kata
§  Hanya sedikit salah mengucapkan kata
§  Mengambar manusia sekurang-kurangnya menunjukan 6 bagian tuhuh
§  Membawa mainan dengan mainan kereta
§  Bermain dengan pensil berwarna
§  Bermain dalam kelompok

2.2.      PELAYANAN KONTRASEPSI
A.    Pengertian
Kontrasepsi berasal dari kata kontra berarti ‘mencegah’ atau ‘melawan’ dan konsepsi yang berartipertemuan antara sel telur yang matang dan sel sperma yang mengakibatkan kehamilan. Maksud dari kontrasepsi adalah menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel sperma tersebut. Ada dua pembagian cara kontrasepsi, yaitu cara kontrasepsi sederhana dan cara kontrasepsi moderen (metode efektif).
1.      Cara Kontrasepsi Sederhana
Kontrasepsi sederhana terbagi lagi atas kontrasepsi tanpa alat dan kontrasepsi dengan alat/obat.Kontarsepsi sederhana tanpa alat dapat dilakukan dengan senggama terputus dan pantang berkala.Sedangkan kontarsepsi dengan alat/obat dapat dilakukan dengan menggunakan kondom, diafragma atau cup, cream, jelly, atau tablet berbusa (vaginal tablet).
a)      Senggama Terputus
Merupakan cara kontrasepsi yang paling tua. Senggama dilakukan sebagaimana biasa, tetapi pada puncak senggama, alat kemaluan pria dikeluarkan dari liang vagina dan sperma dikeluarkan di luar. Cara ini tidak dianjurkan karena sering gagal, karena suami belum tentu tahu kapan spermanya keluar.
b)      Pantang Berkala (Sistem Kalender)
Cara ini dilakukan dengan tidak melakukan senggama pada saat istri dalam masa subur.Cara ini kurang dianjurkan karena sukar dilaksanakan dan membutuhkan waktu lama untuk ‘puasa’.Selain itu, kadang juga istri kurang terampil dalam menghitung siklus haidnya setiap bulan.
c)      Kondom/Diafragma
Kondom merupakan salah satu pilihan untuk mencegah kehamilan yang sudah populer di masyarakat. Kondom adalah suatu kantung karet tipis, biasanya terbuat dari lateks, tidak berpori, dipakai untuk menutupi zakar yang berdiri (tegang) sebelum dimasukkan ke dalam liang vagina. Kondom sudah dibuktikan dalam penelitian di laboratorium sehingga dapat mencegah penularan penyakit seksual, termasuk HIV/AIDS.
Kondom mempunyai kelebihan antara lain mudah diperoleh di apotek, toko obat, atau supermarket dengan harga yang terjangkau dan mudah dibawa kemana-mana. Selain itu, hampir semua orang bisa memakai tanpa mengalami efek sampingan.Kondom tersedia dalam berbagai bentuk dan aroma, serta tidak berserakan dan mudah dibuang.Sedangkan diafragma adalah kondom yang digunakan pada wanita, namun kenyataannya kurang populer di masyarakat.
d)     Cream, Jelly, atau Tablet Berbusa
Semua kontrasepsi tersebut masing-masing dimasukkan ke dalam liang vagina 10 menit sebelum melakukan senggama, yaitu untuk menghambat geraknya sel sperma atau dapat juga membunuhnya. Cara ini tidak populer di masyarakat dan biasanya mengalami keluhan rasa panas pada vagina dan terlalu banyak cairan sehingga pria kurang puas.

2.      Cara Kontrasepsi Moderen/Metode Efektif
Cara kontrasepsi ini dibedakan atas kontrasepsi tidak permanen dan kontrasepsi permanen. Kontrasepsi permanen dapat dilakukan dengan pil, AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim), suntikan, dan norplant. Sedangkan cara kontrasepsi permanen dapat dilakukan dengan metode mantap, yaitu dengan operasi tubektomi (sterilisasi pada wanita) vasektomi (sterilisasi pada pria).
a)        Pil
Pil adalah obat pencegah kehamilan yang diminum.Pil telah diperkenalkan sejak 1960. Pil diperuntukkan bagi wanita yang tidak hamil dan menginginkan cara pencegah kehamilan sementara yang paling efektif bila diminum secara teratur. Minum pil dapat dimulai segera sesudah terjadinya keguguran, setelah menstruasi, atau pada masa post-partum bagi para ibu yang tidak menyusui bayinya. Jika seorang ibu ingin menyusui, maka hendaknya penggunaan pil ditunda sampai 6 bulan sesudah kelahiran anak (atau selama masih menyusui) dan disarankan menggunakan cara pencegah kehamilan yang lain.
Pil dapat digunakan untuk menghindari kehamilan pertama atau menjarangkan waktu kehamilan-kehamilan berikutnya sesuai dengan keinginan wanita.Berdasarkan atas bukti-bukti yang ada dewasa ini, pil itu dapat diminum secara aman selama bertahun-tahun.Tetapi, bagi wanita-wanita yang telah mempunyai anak yang cukup dan pasti tidak lagi menginginkan kehamilan selanjutnya, cara-cara jangka panjang lainnya seperti spiral atau sterilisasi, hendaknya juga dipertimbangkan.Akan tetapi, ada pula keuntungan bagi penggunaan jangka panjang pil pencegah kehamilan.Misalnya, beberapa wanita tertentu merasa dirinya secara fisik lebih baik dengan menggunakan pil daripada tidak.Atau mungkin menginginkan perlindungan yang paling efektif terhadap kemungkinan hamil tanpa pembedahan.Kondisi-kondisi ini merupakan alasan-alasan yang paling baik untuk menggunakan pil itu secara jangka panjang.
Jenis-jenis Pil
·         Pil gabungan atau kombinasi
Tiap pil mengandung dua hormon sintetis, yaitu hormon estrogen dan progestin. Pil gabungan mengambil manfaat dari cara kerja kedua hormon yang mencegah kehamilan, dan hampir 100% efektif bila diminum secara teratur.
·         Pil berturutan
Dalam bungkusan pil-pil ini, hanya estrogen yang disediakan selama 14—15 hari pertama dari siklus menstruasi, diikuti oleh 5—6 hari pil gabungan antara estrogen dan progestin pada sisa siklusnya.Ketepatgunaan dari pil berturutan ini hanya sedikit lebih rendah daripada pil gabungan, berkisar antara 98—99%. Kelalaian minum 1 atau 2 pil berturutan pada awal siklus akan dapat mengakibatkan terjadinya pelepasan telur sehingga terjadi kehamilan. Karena pil berturutan dalam mencegah kehamilan hanya bersandar kepada estrogen maka dosis estrogen harus lebih besar dengan kemungkinan risiko yang lebih besar pula sehubungan dengan efek-efek sampingan yang ditimbulkan oleh estrogen.
·         Pil khusus – Progestin (pil mini)
Pil ini mengandung dosis kecil bahan progestin sintetis dan memiliki sifat pencegah kehamilan, terutama dengan mengubah mukosa dari leher rahim (merubah sekresi pada leher rahim) sehingga mempersulit pengangkutan sperma.Selain itu, juga mengubah lingkungan endometrium (lapisan dalam rahim) sehingga menghambat perletakan telur yang telah dibuahi.

b)        AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim)
AKDR atau IUD (Intra Uterine Device) bagi banyak kaum wanita merupakan alat kontrasepsi yang terbaik.Alat ini sangat efektif dan tidak perlu diingat setiap hari seperti halnya pil. Bagi ibu yang menyusui, AKDR tidak akan mempengaruhi isi, kelancaran ataupun kadar air susu ibu (ASI). Namun, ada wanita yang ternyata belum dapat menggunakan sarana kontrasepsi ini.Karena itu, setiap calon pemakai AKDR perlu memperoleh informasi yang lengkap tentang seluk-beluk alat kontrasepsi ini.

Jenis-jenis AKDR di Indonesia
1.      Copper-T
AKDR berbentuk T, terbuat dari bahan polyethelen di mana pada bagian vertikalnya diberi lilitan kawat tembaga halus. Lilitan kawat tembaga halus ini mempunyai efek antifertilisasi (anti pembuahan) yang cukup baik.
2.      Copper-7
AKDR ini berbentuk angka 7 dengan maksud untuk memudahkan pemasangan. Jenis ini mempunyai ukuran diameter batang vertikal 32 mm dan ditambahkan gulungan kawat tembaga (Cu) yang mempunyai luas permukaan 200 mm2, fungsinya sama seperti halnya lilitan tembaga halus pada jenis Coper-T.
3.      Multi  Load
AKDR ini terbuat dari dari plastik (polyethelene) dengan dua tangan kiri dan kanan berbentuk sayap yang fleksibel. Panjangnya dari ujung atas ke bawah 3,6 cm. Batangnya diberi gulungan kawat tembaga dengan luas permukaan 250 mm2 atau 375 mm2 untuk menambah efektivitas. Ada 3 ukuran multi load, yaitu standar, small (kecil), dan mini.
4.      Lippes Loop
AKDR ini terbuat dari bahan polyethelene, bentuknya seperti spiral atau huruf S bersambung.Untuk meudahkan kontrol, dipasang benang pada ekornya.Lippes Loop terdiri dari 4 jenis yang berbeda menurut ukuran panjang bagian atasnya. Tipe A berukuran 25 mm (benang biru), tipe B 27,5 mm 9 (benang hitam), tipe C berukuran 30 mm (benang kuning), dan 30 mm (tebal, benang putih) untuk tipe D. Lippes Loop mempunyai angka kegagalan yang rendah. Keuntungan lain dari pemakaian spiral jenis ini ialah bila terjadi perforasi jarang menyebabkan luka atau penyumbatan usus, sebab terbuat dari bahan plastik.

c)        Suntikan
Kontrasepsi suntikan adalah obat pencegah kehamilan yang pemakaiannya dilakukan dengan jalan menyuntikkan obat tersebut pada wanita subur.Obat ini berisi Depo Medorxi Progesterone Acetate (DMPA).Penyuntikan dilakukan pada otot (intra muskuler) di bokong (gluteus) yang dalam atau pada pangkal lengan (deltoid).
Cara pemakaian
Cara ini baik untuk wanita yang menyusui dan dipakai segera setelah melahirkan. Suntikan pertama dapat diberikan dalam waktu empat minggu setelah melahirkan. Suntikan kedua diberikan setiap satu bulan atau tiga bulan berikutnya.

d)       Kontrasepsi Susuk (Implant)
Kontrasepsi susuk (implant) di Indonesia disebut dengan nama "susuk KB". Kontrasepsi ini berisi levo norgestrel, terdiri dari 6 kapsul yang diinsersikan dibawah kulit lengan atas bagian dalam progesten yang telah banyak dipakai nordette. Setiap kapsul mengandung 38 mg levonorgestrel dan akan efektif sebagai kontrasepsi untuk 5 tahun.
Implant merupakan cara KB yang sangat efektif dalam mencegah kehamilan dan dapat mengembalikan kesuburan secara sempurna karena:
§  Implant tidak merepotkan. Setelah pemasangan, akseptor tidak perlu melakukan atau memikirkan apa-apa misalnya pada pengguna pil.
§  Sekali pasang, akseptor akan mendapat perlindungan selama 5 tahun.
§  Pemakaian diarahkan kepada daerah yang sulit menerima IUD/kontap.
Diutamakan bagi peserta yang sudah cukup anak , tidak ingin mempunyai anak lagi tetapi belum siap menjalani kontrasepsi mantap.
§  Implant cukup memuaskan, tidak ada yang di masukkan ke dalam vagina dan tidak menganggu kebahagian dalam hubungan seksual
§  Implant sangat mudah diangkat kembali. Bila seorang akseptor menginginkan anak lagi, kesuburan langsmg dapat kembali setelah implant diangkat.
§  Implant merupakan cara KB yang ideal bagi ibu yang tidak mau mempunyai anak lagi, akan tetapi belum siap untuk melakukan sterilisasi.
Kontra indikasi pemakaian implant ialah hamil atau disangka hamil, kelainan kardiovaskuler, sakit kuning, gula, infeksi panggul, psikosis/neurosis, riwayat kehamilan ektopik, riwayat molahidatidosa, varises berat, ibu sedang menyusui.


e)        Tubektomi (Sterilisasi pada Wanita)
Tubektomi adalah setiap tindakan pada kedua saluran telur wanita yang mengakibatkan wanita tersebut tidak akan mendapatkan keturunan lagi. Sterilisasi bisa dilakukan juga pada pria, yaitu vasektomi.Dengan demikian, jika salah satu pasangan telah mengalami sterilisasi, maka tidak diperlukan lagi alat-alat kontrasepsi yang konvensional.Cara kontrasepsi ini baik sekali, karena kemungkinan untuk menjadi hamil kecil sekali.
Faktor yang paling penting dalam pelaksanaan sterilisasi adalah kesukarelaan dari akseptor.Dengan demikia, sterilisasi tidak boleh dilakukan kepada wanita yang belum/tidak menikah, pasangan yang tidak harmonis atau hubungan perkawinan yang sewaktu-waktu terancam perceraian, dan pasangan yang masih ragu menerima sterilisasi. Yang harus dijadikan patokan untuk mengambil keputusan untuk sterilisasi adalah jumlah anak dan usia istri. Misalnya, untuk usia istri 25–30 tahun, jumlah anak yang hidup harus 3 atau lebih.

2.2  RUJUKAN
Pengertian pelayan rujukan
System rujukan dalam mekanisme pelayanan MKET merupakan suatu system pelimpahan tanggung jawab timbal balik diantara unit pelayanan MKET baik secra vertical maupun horizontal atau kasus atau masalah yang berhubungan dengan MKET.
Unit pelayanan yang dimaksud disini yaitu menurut tingkat kemampuan dari yang paling sederhana berurut-turut keunit pelayanan yang paling mampu
Untuk AKDR             Dokter dan bidan praktek swasta, rumah bersalin, klinik KB,  puskesmas, RS klas D RS klas D, RS klas C, RS klas B, RS klas B2, dan RS klas A
Untuk implant             Dokter dan bidan praktek swasta, Rumah Bersalin, Klinik KB, Puskesmas, RS klas D RS Klas D, RS klas C, RS Klas B, RS Klas B2,    dan RS klas A.
Untuk Vasektomi        Dokter  praktek swasta, puskesmas,RS klas D RS klas B, RS klas D, RS klas C, RS klas B, RS fklas B2, dan RS klas A
Untuk tubektomi         Dokter Praktek Swasta berkelompok, RS klas D, RS klas Df, RS klas C,RS klas B, RS klas B2, dan RS klas A



Tujuan Rujukan
a.       Terwujudnya suatu jaringan pelayanan MKET yang terpadu disetiap tingkat wilayah, sehingga setiap unit pelayanan memberikan pelayanan secara berhasil guna dan berdaya guna maksimal, sesuai dengan tingkat kemampuannya masing-masing.
b.      Peningkatan dukungan terhadap arah dan pendekatan gerakan KB Nasional dalam hal perluasan jangkauan dan pembinaan peserta KB dengan pelayanan yang makin bemutu tinggi serta pengayoman penuh kepada masyarakat

Jenis Rujukan
Rujukan MKET dapat dibedakan atas tiga jenis yaitu sebagai berikut:
a.       Pelimpahan Kasus
§  Pelimpahan kasus dari unit pelayanan MKET yang lebih sederhana ke unit pelayanan MKET yang lebih mampu dengan maksud memperoleh pelayanan yang lebih baik dan sempurna.
§  Pelimpahan kasus dari unit pelayanan MKET yang lebih mampu ke unit pelayanan  yang lebih sederhana dengan maksud memberikan pelayanan selanjutnya atas kasus tersebut
§  Pelimpahan kasus ke unit pelayanan MKET dengan tingkat kemampuan sama dengan pertimbangan geografis, ekonomi dan efisiensi kerja.
§  Pelimpahan pengetahuan dan keterampilan

b.      Pelimpahan pengetahuan dan keterampilan ini dapat dilakukan dengan :
§  Pelimpahan tenaga dari unit pelayanan MKET yang lebih mampu ke unit pelayanan MKET yang lebih sederhana dengan maksud memberikan latihan praktis.
§  Pelimpahan tenaga dari unit pelayanan MKET yang lebih sederhana ke unit pelayanan MKET yang lebih mampu dengan maksud memberikan latihan praktis
§  Pelimpahan tenaga ke unit pelayanan MKET dengan tingkat kemampuan sama dengan maksud tukar-menukar pengalaman

c.       Pelimpahan bahan-bahan penunjang diagnostic
  • Pelimpahan bahan-bahan penunjang diagnostik dari unit pelayanan MKET yang lebih sederhana ke unit pelayanan MKET yang lebih mampu dengn maksud menegakkan diagnose yang lebih tepat
  • Pelimpahan bahan-bahan penunjang diagnostic dari unit pelayanan MKET yang lebih sederhana dengan maksud untuk dicobakan atau sebagai informasi
  • Pelimpahan bahan-bahan penunjang diagnostic ke unit pelayanan dengan tingkat kemampuan sama dengan maksud sebagai informasi atau untuk dicobakan

Sasaran Rujukan MKET
-          Sasaran obyektif
ü  PUS yang akan memperoleh pelayanan MKET
ü  Peserta KB yang akan ganti cara ke MKET
ü  Peserta KB MKET untuk mendapatkan pengamatan lanjutan
ü  Peserta KB yang mengalami komplikasi atau kegagalan pemakaian MKET
ü  Pengetahuan dan keterampilan MKET
ü  Bahan-bahan penunjang diagnostic
-          Sasaran subyektif
Petugas-petugas pelayanan MKET disemua tingkat wilayah.

Jalur Rujukan


RS tipe A
 
 
                                                                                                                  RS Cipto


 


                                                                                                                  RS Provinsi


RS tipe C/D
 
 
                                                                                                                  RS Kabupaten


 


                                                                                                                  Kecamatan


Pustu
 
 
                                                                                                                  Kelurahan


 





Jaringan rujukan MKET
v  Dokter/bidan praktek swasta, Rumah Bersalin dengan kewajiban
  • Merujuk kasus-kasus yang tidak mampu ditanggulangi sendiri keunit pelayanan MKET yang lebih mampu dan terdekat
  • Menerima kembali untuk tindakan lebih lanjut kasus yang dikembalikan oleh unit pelayanan MKET yang lebih mampu
  • Mengadakan konsultasi dengan mengusahakan kunjungan ke unit pelayanan yang lebih mampu untuk meningkatkan pengetahuan pelayanan yang lebih mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
  • Mengusahaan kunjungan tenaga dari unit pelayanan MKET yang lebih mampu untuk pembinaan tugas dan pelayanan MKET

v  Unit pelayanan MKET tingkat kecamatan (puskesmas) yang mempunyai kewajiban sebagai berikut:
§  Menerima dan menanggulangi kasus rujukan dari unit pelayanan MKET
§  Meengirim kembali kasus yang sudah ditanggulangi untuk dibina lebih lanjut oleh unit pelayanan MKET yang merujuk
§  Merujuk kasus-kasus yang tidak mampu ditanggulangi ke unit pelayanan MKET yang lebih mampu dan terdekat
§  Menerima kembali untuk pembunaan tindak lanjut kasus-kasus yang dikembalikan oleh unit pelayanan MKET yang lebih mampu
§  Mengadakan konsultasi dan mengadakn kunjungan ke unit pelayanan yang lebih mampu untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
§  Mengusahakan adanya kunjungan tenaga dari unit pelayanan MKET yang lebih mampu untuk pembinaan petugas dan pelayanan masyarakat
§  Mengirim bahan-bahan penunjang diagnostic ke unit pelayanan MKET yang lebih mampu, jika tidak dapat melakukan pemeriksaan diagnose yang lebih tepat
§  Menerima kembli hasil pemeriksaan bahan-bahan diagnosik yang sebelumnya dikirim ke unit pelayanan MKET yang lebih mampu

v  Unit pelayanan MKET tingkat kabupaten/kotamadya (RS klas D,RS klas D, RS klas C).
  • Menerima dan menanggulangi kasus rujukan dari unit pelayanan MKET dibawahnya. Pelayanan
§  Mengirim kembali kasus yang sedang ditanggulangi untuk dibina lebih lanjut oleh unit pelayanan MKET yang merujuk
§  Merujuk kasus-kasus yang tidak mampu ditanggulangi ke unit pelayanan MKET yang lebih mampu dan terdekat
§  Kasus kembali untuk pembunaan tindak lanjut kasus-kasus yang dikembalikan oleh unit pelayanan MKET yang lebih mampu
§  Mengadakan konsultasi dan mengadakan kunjungan ke unit pelayanan yang lebih mampu untuk pembinaan petugas dan pelayanan masyarakat
§  Mengusahakan adanya kunjungan tenaga dari unit pelayanan MKET yang lebih mampu untuk pembinaan petugas dan pelayanan masyarakat
§  Mengirim bahan-bahan penunjang diagnostic ke unit pelayanan MKET yang lebih mampu, jika tidak mampu melakukan pemeriksaan sendiri atau jika hasilnya meragukan untuk menegakkan diagnose yang lebih tepat
§  Menerima kembali hasil pemeriksaan bahan-bahan diagnostic yang sebelumya dikirim ke unit pelayanan MKET yang lebih mampu

v  Unit pelayanan MKET tingkat provinsi (RS klas C, RS klas B, RS klas B2).
  • Menerima dan menanggulangi kasus rujukan dari unit pelayanan MKET dibawahnya
§  Mengirim kembali kasus yang sudah ditanggulangi untuk dibina lebih lanjut oleh unit pelayanan MKET yang merujuk
§  Menerima konsultasi dan latihan petugas pelayanan MKET dari Unit pelayanan MKET dibawahnya
§  Mengusahakan dilaksanakannya kunjungan tenaga/spesialis keunit pelayanan MKET yang kurang mampu untuk pembinaan petugas dan pelayanan masyarakat
§  Menerima rujukan bahan-bahan penunjang diagnostic
§  Mengirimkan hasil pemeriksaan bahan-bahan penunjang diagnostic tersebut diatas

v  Unit pelayanan MKET tingkst pusat (RS klas A)
  • Menerima dan menanggulangi kasus rujukan dari unit pelayanan MKET dibawahnya
  • Mengirim kembali kasus yang sudah ditanggulangi untuk dibina lebih lanjut oleh unit pelayanan MKET yang merujuk
  • Menerima konsultasi dan latihan petugas pelayanan MKET dari unit pelayanan MKET dibawahnya
  • Mengusahakan dilaksanakannya kunjungan tenaga/spesialis ke unit pelayanan MKET yang kurang mampu untuk pembinaan petugas dan pelayanan masyarakat
  • Menerima rujukan bahan-bahan penunjang diagnostic
  • Mengirimkan hasil pemeriksaan bahan-bahan penunjang diagnostic tersebut diatas

Mekanisme (Tata Cara) Rujukan
- Rujukan kasus
a. Unit pelayanan yang merujuk
1. Unit pelayanan MKET yang merujuk kasus ke unit pelayanan yang lebih mampu.
Unit pelayanan bisa merujuk kasus ke unit pelayanan yang lebih mampu setelah melakukan proses pemeriksaan dan dengan hasil sebagai berikut
a) Berdasarkan pemeriksaan penunjang diagnostic kasus tersebut tidak dapat diatasi
b) Perlu pemeriksaan penunjang diagnostic yang lebih lengkap dengan memerlukan kedatangan penderita ybs
c) Setelah dirawat dan diobati ternyata penderita masih memerlukan perawatan dan pengobatan di unit pelayanan yang lebih mampu
2. Unit pelayanan yang merujuk kasus ke unit pelayanan yang lebih sederhana
Unit pelayanan yang merujuk kasus ke unit pelayanan yang lebih sederhana:
a) Setelah melakukan pemeriksaan dengan atau tanpa pemeriksaan penunjang diagnostic, terhadap penderita ternyata pengobatan dan perawatan dapat dilakukan di unit pelayanan yang lebih sederhana
b) Setelah melakukan pengobatan dan perawatan ternyata penderita masih melakukan pembinaan selanjutnya yang dapat dilakukan oleh unit pelayanan yang lebih sederhana

3.      Unit pelayanan yang merujuk kasus ke unit pelayanan dengan kemampuannya yang sama.
a.     Unit pelayanan dapat merujuk ke unit pelayanan dengan kemampuan sama jika:
1)        Setelah melakukan pemeriksaan dengan atau tanpa pemeriksaan penunjang diagnostic, ternyata untuk kemudahan penderita pengobatan dan perawatan dapat dilakukan di unit pelayanan yang lebih dekat
2)        Setelah melakukan pengobatan dan perawatan, penderita masih memerlukan pembinaan lanjutan di unit pelayanan yang lebih dekat
b.    Unit pelayanan yang menerima rujukan
1)        Unit pelayanan yang menerima rujukan dari unit pelayanan yang lebih sederhana.
2)        Sesudah melakukan pemeriksaan penunjang diagnostic, dapat mengirimkan kembali penderita ke unit pelayanan yang merujuk untuk perawatan dan pengobatan
3)        Sesudah melakukan perawatan dan pengobatan, dapat mengirimkan kembali penderita ke unit pelayanan yang merujuk untuk pembinaan lebuh lanjut
c.    Unit pelayanan yang menerima rujukan dari unit pelayanan yang lebih mampu
§  Melakukan perawatan dan pengobatan penderita yang dirujuk, atau;
§  Melakukan pembinaan lanjutan terhadap penderita yang dirujuk
d.   Unit pelayanan yang menerima rujukan dari unit pelayanan dengan kemampuan sama.
·           Melakukan perawatan dan pengobatan penderita yang dirujuk, atau;
·           Melakukan pembinaan lanjutan terhadap penderita yang dirujuk

Rujukan bahan-bahan penunjang diagnostic
a.    Unit pelayanan yang merujuk
1)   Unit pelayanan yang merujuk ke unit pelayanan yang lebih mampu
-            Jika tidak mampu melakukan pemeriksaan sendiri terhadap bahan-bahan penunjang diagnostic tersebut
-            Jika hasil pemeriksaan terhadap bahan-bahan penunjang diagnostic tersebut meragukan
2)   Unit pelayanan yang merujuk ke unit pelayanan yang lebuh sederhana, jika hasil pemeriksaan bahan diagnostik tersebut perlu diinformasikan dan pemeriksaan bahan diagnostic tersebut akan dicobakan di unit pelayanan yang dirujuk
3)   Unit pelayanan yang merujuk kasus ke unit pelayanan dengan kemampuan yang sama jika hasil pemeriksaan bahan diagnostic tersebut perlu diinformasikan dan pemerikaan bahan diagnostic tersebut akan dicobakan di unit pelayanan yang dirujuk
b.    Unit pelayanan yang menerima rujukan
1)   Unit pelayanan yang menerima rujukan dari unit pelayanan yang lebih sederhana perlu melakukan tindakan-tindakan sebagai berikut:
a.         Melakukan pemeriksaan bahan-bahan penunjang diagnostic yang dirujuk.
b.        Mengirimkan hasil pemeriksaan bahan-bahan penunjang diagnostic kepada unit pelayanan yang merujuk.
2)   Unit pelayanan yang menerima bahan-bahan penunjang diagnostic dari unit pelayanan yang lebih mampu, perlu melakukan tindakan.” Mencoba pemeriksaan yang lebih mampu, perlu melakukan yang dirujuk”
3)   Unit pelayanan yang menerima bahan penunjang diagnostic dari unit pelayanan dengan kemampuan yang setingkat, perlu melakukan tindakan.







                                                                                          

















BAB IV
PENUTUP

A.      KESIMPULAN
Sistem rujukan dalam mekanisme pelayanan merupakan suatu sistem pelimpahan tanggung jawab timbal balik atas kasus masalah yang berhubungan dengan KB di antara pelayanan KB yang ada, baik secara vertical maupun horizontal.
Tujuan sistem rujukan di sini adalah untuk meningkatkan mutu, cakupan dan efisiensi pelaksanaan pelayanan metode kontrasepsi secara terpadu.
¨    Mewujudkan suatu jaringan pelayanan KB yang terpadu di setiap tingkat, sehingga masing-masing unit pelayanan KB sesuai dengan tingkat kemampuan, berdaya guna dan berhasil guna maksimal.
¨    Pembinaan dukungan terhadap arah dan pendekatan program KB Nasional dalam hal perluasan jangkauan/pemerataan pembinaan dengan pelayanan yang bermutu, dapat ditingkatkan serta perlindungan penuh kepada masyarakat

B.       SARAN
Untuk tenaga kesehatan harus memperhatikan tentang kesehatan bayi dengan memeberikan pelayanan kesehatan yang bermutu dan berkualitas, sehingga bisa menurunkan angka kesakitan dan kematian pada bayi.
Untuk para ibu harus memperhatikan kesehatan bayinya yaitu sebisa mungkin untuk memberikan ASI ekslusif sampai usia 6 bulan. Dan ibu memberi kan MP-ASI lebih dari 6 bulan. Ibu juga harus rutin untuk menimbangkan bayinya dan memberikan imunisasi secara rutin. Ibu harus segera membawa anaknya ketenaga kesehatan jika bayinya sakit, untuk mendapatkan penanganan.



DAFTAR PUSTAKA

Behrman. Kliegman. Arvin. Ilmu Kesehatan Anak (Nelson Textbook of Pediatrics). EGC. Jakarta; 2000
Bidan Menyongsong Masa Depan, PP IBI. Jakarta.Syafrudin dan Hamidah. 2009. Kebidanan Komunitas. Jakarta : EGC
Depkes RI. Buku Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta; 2003
Meilani, Niken. 2009. Kebidanan Komunitas. Yogyakarta : Fitramaya
Saifuddin Bari Abdul.2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo



No comments:

Post a Comment